Kultur Sekolah
NAMA: MELDA AMANDA
NIM: 12001241
KELAS: 4G PAI
KULTUR SEKOLAH
Sebelum kita membahas lebih luas lagi tentang kultur sekolah,sebaiknya kita mengetahui dulu apa itu kultur sekolah dan siapa saja yang bertanggung jawab membangun kultur sekolah?. Kultur sekolah merupakan sekumpulan keyakinan, harapan, nilai, norma, tata aturan, dan rutunitas kerja yang di internalisasi warga sekolah sehingga mempengaruhi hubungan sejawat dan kinerja warga sekolah dalam mencapai tujuan sekolah. Menurut Moerdiyanto kultur sekolah terdiri dari kultur positif dan negatif.Kultur sekolah yang positif adalah budaya yang membantu mutu sekolah dan mutu kehidupan bagi warganya. Dalam pengertian mutu sekolah dan mutu kehidupan dapat dimaksudkan sebagai mutu yang berhubungan dengan kehidupan yang bernilai moralitas dan agamis masyarakat sekolah. Aktifitas siswa dalam kesehariannya tida akan lepas dari keterlibatan kultur sekolah pada proses bersikap, bersikap, berbuat dan memandang bahkan berfikirnya. Mutu kehidupan siswa yang diharapkan adalah siswa yang memiliki perilaku baik dalam sudut pandang etika dan agama.Kultur positif ini akan memberi peluang sekolah beserta warganya untuk membentuk dan meningkatkan kemampuan dan kecerdasan spiritual siswa. Sedangkan kultur negatif adalah budaya yang bersifat anarkis, negatif, beracun, bias, dan dominatif. Sekolah yang hanya melihat dan menargetkan hasil pendidikan yang berupa kemampuan intelegensi dan mengabaikan dimensi spiritual siswa merupakan bagian dari kultur negatif karena mereka cenderung tidak melakuka upaya yang mengarah kepada terbentuk dan berkembangnya kecerdasan spiritual siswa. Jadi kultur sekolah ini merupakan budaya sekolah yang dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekolah baik pengaruh positif maupunpengaruh negatif
Menurut Stolp dan Smith kultur sekolah adalah pola makna yang di pancarkan secara historis yang mencakup norma, nilai, keyakinan, seremonial, ritual, tradisi, dan mitos dalam derajat yang bervariasi oleh warga sekolah.Kultur sekolah menjadi salah satu daya tarik konsumen untuk menggunakan jasa pendidikan yang ditawarkan sekolah.Jadi kultur sekolah ini merupakan landasan dari tercapainya semua bentuk prestasi warga sekolah.Menurut gareth R. Jones dan Jennifer M. George sebagai sebuah organisasi, sekolah ada yang memiliki kultur kuat dan ada pula yang lemah. Jika warga sekolah memiliki komitmen yang tinggi terhadap nilai-nilai yang disepakati bersama mulai dari kepala sekolah sampai bagian kebersihan memiliki komitmen tersebut maka sekolah tersebut memiliki kultur yang kuat.Begitu juga sebaliknya, jika seluruh warga sekolah atau sebagian warga sekolah tidak memiliki komitmen terhadap implementasi nilai-nilai yang disepakati maka sekolah tersebut memiliki kultur organisasi yang lemah.Sekolah yang memiliki kultur yang lemah atau kultur yang tidak positif. prestasi apapun akan sulit untuk tumbuh dilingkungan sekolah tersebut.Jadi kultur sekolah itu berperan untuk mengembangkan prestasi siswa melalui nilai-nilai utama dan nilai pendukung. Nilai utama yaitu nilai prestasi, kedisiplinan, kebersihan, dan religi.Sedangkan nilai pendukung diantaranya adalah tanggung jawab, kejujuran, toleransi, yang dibudayakan melalui tugas-tugas yang diberikan kepada siswa. Kultur sekolah ini dapat membantu siswa untuk meningkatkan dan mengembangkan karakter siswa disekolah.Melalui kultur sekolah siswa tidak hanya ditanamkan karakter dalam proses pembelajaran dikelas saja. Siswa dapat pula ditanamkan karakternya dalam kegiatan diluar jam pelajaran melalui pembiasaan yang dilakukan dilingkungan sekolah dasar.
Siapa yang bertanggung jawab membangun kultur sekolah? Jadi dalam membentuk kultur sekolah itu semua warga sekolah memiliki kontribusi dalam membangun dan “nguri-uri” kultur sekolah,namun kepala sekolah sebagai manager puncak, dengan kewenangan dan kekuasaannya yang lebih, memikul tanggung jawab terbesar dalam terbentuknya kultur sekolah yang positif.Untuk menciptakan kultur sekolah yang positif harus dibangun atas landasan ilmu dan pemahaman yang memadai.Mengapa sekolah ini harus menerapkan kedisiplinan dalam berbagai hal, misalnya, harus dipahami oleh semua warga sekolah. Oleh karena itu tahapan sosialisasi menjadi langkah awal penanaman kultur, khususnya kepada warga baru, guru, atau siswa baru. Melalui tahapan sosialisasi, warga sekolah mengawali proses internalisasi nilai-nilai dan norma yang dianut sekolah.Selain itu juga harus dilakukan pemantapan melalui serangkaian kegiatan pembiasaan dengan keteladanan piramid. Kepala sekolah menjadi tokoh utama keteladanan diikuti guru dan karyawan sedangkan peserta didik menjadi pengikut yang menyerap nilai-nilai positif dari perilaku para pemimpinnya. Kultur sekolah yang diterapkan oleh pihak sekolah dapat mempengaruhi kepribadian siswa terutama dalam hal kedisiplinan dan kejujuran siswa. Denganadanya budaya sekolah diharapkan siswa memiliki karater yang baik dalam melakukan setiap tindakan untuk membentuk generasi penerus yang memiliki kepribadian. Adapun faktor yang mempengaruhi terwujudnya kultur sekolah yaitu:
a. Faktor menghambat pembentukan kultur sekolah
• Siswa
• Manajemen Sekolah
• Guru
b. Faktor pendukung pembentukan kultur sekolah
• Sarana dan prasaran
• Lingkungan yang kondusif
• Peran orang tua
Pada dasarnya kualitas sebuah lembaga pendidikan bisa dilihat dari sejauh mana keberhasilannya dalam meningkatkan kualitas mulai dari kultur organisasi ataupu intitusi. Khusus dalam lembaga pendidikan formal seperti kultur yang dibangun adalah nilai-nilai atau norma-norma yang dianut dari generasi ke generasi. Berkaitan dengan peningkatan sumber daya manusia, juga perlu diciptakan kultur yang baik. Pada semua tenaga pendidik dan tenaga kependidikan harus ada komunikasi dan kolaborasi yang apik sehingga mendukung sebuah lembaga untuk terus berinovasi, untuk terus melakukan perubahan yang positif atau Tajdid dalam bahasa persyarikatan kita. Tenaga pendidik dan kependidikan yang memiliki kultur yang baik akan menciptakan suasana pembelajaran kepada peserta didik yang juga menyenagkan, dilakukan dengan kesungguhan dan sepenuh hati. Untuk siswa perlu di tingkatkan motivasi belajar dan pentingnya kedisiplinan, kejujuran, dan motivasi berprestasi sehingga kompetisi antar siswa akan tercipta. Contoh kultur negatif yang masih sering dilakukan siswa antara lain masih kurang diperhatikannya persoalan kedisiplinan, ini terbukti dari angka keterlambatan yang cukup tinggi.
Komentar
Posting Komentar